Sejarah

Pendidikan Agama Islam Darunna’im adalah sebuah Yayasan berlokasi di Desa Cirende, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten yang didirikan pada tahun 2011. Yayasan ini adalah gagasan H. Hera Risno, S.ST. Setelah Berjalanya MTs dan MA Darunna’im pada tahun 2000. Yayasan ini adalah model integrasi antara sistem pendidikan pondok pesantrendengan sistem pendidikan madrasah dan sekolah.
3.PROFILE PIMPINAN PONDOK PESANTREN DARUNNA’IM

Potret K.H. Omi Qizimi

K.H. Omi Qozimi adalah seorang alumnus Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur tahun 1992. Sebelum mendirikan pesanten Modern Darunna’im, Beliau mengajar terlebih dahulu di almamaternya selama lima tahun. Pada tahun 1997 beliau kembali ke kampungnya, Cirende, untuk membantu ayahnya K.H Abdul Mutholib.

Pada tahun 1997 beliau pulang ke kampung halamannya di Cirende Rangkasbitung Lebak Banten. Beliau bertekad untuk membangun pondok pesantren dan Alhamdulillah, setelah mendapatkan restu dari kedua orangtuanya  KH. Abdul Mutholib (alm) dan Hj. Unaeni (alm) beserta seluruh keluarga besarnya berdirilah sebuah pondok pesantren yang diberi nama Pondok Pesantren Modern Darunna’im yang dibuka pendaftaran pertama kali pada tahun 1998 dengan dibantu oleh salah satu santrinya yang mondok di Gontor yaitu Ust. Idrus Junaedi yang berasal dari Palembang. Pada mulanya Pondok ini hanya Memiliki 1 Lokal Asrama Putri, 2 Lokal Asrama Putra, 2 Lokal Tempat Belajar, 1 Lokal kantor KMI, 1 Lokal Kamar Mandi Santri, 1 Lokal Kamar Ustadz, Dan 1 Lokal Kamar Mandi Ustadzah.

Masa-masa awal pendidikan pondok dilaluinya dengan berbagai kesulitan dan keterbatasan sarana. Namun, dengan keterbatasannya itu tidak menghalangi Kyai Omi  untuk terus berbuat dan konsisten dengan niatnya. Dan Darunna’im-pun  mulai menampakkan perkembangannya, pada tahun 2005.  sehingga sekarang hingga Darunna’im semakin mendapatkan kepercayaan masyarakat luas dari berbagai kalangan seantero Indonesia  bahkan telah ada beberapa pelajar yang datang dari manca negara, seperti Malaysia dan Timor Leste. Sistem pendidikannya yang modern, penerapan disiplin, kecakapan dan kemandirian  hidup serta ketaatan dalam beribadah menjadi alasan para orang tua santri untuk mendidik anaknya di Darunna’im.

Dalam perkembangan selanjutnya, Darunna’im ingin mengembangkan cakupan dakwahnya di berbagai jenjang pendidikan selain di tingkat menengah dan pondok pesantren. Maka tercetusnya ide untuk mendirikan perguruan tinggi pondok pesantren yang menampung keinginan wali santri dan para alumni yang bermaksud meneruskan pendidikannya di Darunna’im pada tingkat perguruan tinggi.

Maka pada tanggal 31 Maret 2016, berkumpullah beberapa orang kyai, ustadz  dan guru besar (profesor) di Wanda Galuh Palima Serang  untuk merumuskan berdirinya perguruan tinggi di pondok pesantren modern Darunna’im. Dari pertemuan itu lahirlah kesepakatan bersama untuk merintis pendirian perguruan tinggi yang diberi nama STPDN ( Sekolah TInggi PesantrenDarunna’im). Dan untuk memuluskan jalan bagi terlaksananya rumusan ide ini  K.H Omi Qozimi membuat Tim Khusus yang diberi nama Tim  Perumus Pendirian Perguruan Tinggi Pesantren Darunna’im dengan koordinatornya Ust. Eka Wahyu  Trenggana,S.Ag,M.Pd.

Perjuangan ini merupakan awal  dari usaha pembaharuan pendidikan di pesantren Darunna’im. Dengan adanya STPDN ini, diharapkan bisa menghasilkan sarjana-sarjana pendidikan Islam  yang berkualitas, profesional dan unggul yang mau terjun langsung  di lembaga-lembaga pendidikan Islam atau madrasah-madrasah hingga di pelosok-pelosok desa. Maka harapan dari para pendiri perguruan tinggi ini, STPDN mampu menampung para alumni pondok pesantren di Lebak dan sekitarnya  khususnya yang berkeinginan untuk mendapatkan pendidikan di tingkat yang lebih tinggi tapi tidak mampu secara finansial. Adapun operasional dari perguruan tinggi ini didapatkan dari usaha-usaha mandiri dari dewan pendiri, para mahasiswa itu sendiri ataupun dari para donatur yang tidak terikat dengan apapun.

Close
Close