Kategori: Ekonomi Pembangunan, Teknik Lingkungan & Hubungan Internasional Kata Kunci: Sumber Daya Alam, Ekonomi Sirkular, Energi Terbarukan, Resource Curse

Di buku pelajaran IPS kelas 4 SD, Indonesia sering digambarkan sebagai “Jamrud Khatulistiwa”, negeri yang gemah ripah loh jinawi (kaya raya akan sumber daya alam). Kita diajarkan mengelompokkan SDA menjadi dua: yang dapat diperbarui (tumbuhan, hewan) dan yang tidak dapat diperbarui (minyak, batu bara). Pemahamannya sederhana: semakin banyak SDA, semakin kaya negaranya.

Namun, di bangku kuliah, narasi romantis ini dibongkar dan diuji ulang. Mahasiswa Ekonomi dan Politik diperkenalkan pada konsep yang meresahkan: “Kutukan Sumber Daya Alam” (The Resource Curse). Kenapa negara yang kaya minyak atau emas seringkali justru miskin, korup, dan penuh konflik? Pemahaman tentang SDA di universitas bukan lagi soal memiliki, tetapi soal mengelola.

Baca juga: 15 Aplikasi Penghasil Uang 50 Ribu Perhari Terbukti Membayar ke DANA 2026

Dari Linear ke Sirkular: Mengubah Cara Kita Mengonsumsi Bumi

Di Fakultas Teknik dan Bisnis, fokus utama saat ini adalah pergeseran dari Ekonomi Linear (Ambil-Pakai-Buang) menuju Ekonomi Sirkular.

Model lama menganggap SDA sebagai stok tak terbatas yang bisa digali terus menerus. Namun, realitas krisis iklim memaksa kita berpikir ulang. SDA tidak boleh lagi dilihat sebagai “komoditas sekali pakai”.

Ilustrasi: Perbedaan Ekonomi Linear yang menghasilkan limbah vs Ekonomi Sirkular yang mendaur ulang sumber daya.

Mahasiswa Desain Produk dan Teknik Lingkungan kini ditantang untuk merancang sistem di mana limbah satu industri menjadi bahan baku industri lain (cradle to cradle). Plastik bukan lagi sampah, tapi polimer berharga yang salah tempat. Di level ini, definisi “Sumber Daya Alam” meluas mencakup “sampah” yang bisa diolah kembali.

See also  Bank Soal Bahasa Indonesia SD Kelas 6 Semester 2: Persiapan Ujian Komprehensif

Geopolitik Baru: Siapa Menguasai Baterai, Menguasai Dunia

Jika abad ke-20 adalah era “Emas Hitam” (Minyak Bumi), maka abad ke-21 adalah era “Logam Hijau”. Mahasiswa Hubungan Internasional mempelajari pergeseran peta kekuatan dunia berbasis SDA baru: Nikel, Lithium, dan Kobalt.

SDA ini adalah jantung dari revolusi kendaraan listrik dan energi terbarukan. Negara yang menguasai rantai pasok mineral kritis ini akan memegang kendali ekonomi global. Diskusi di ruang kuliah bukan lagi tentang berapa ton batu bara yang kita punya, melainkan bagaimana melakukan hilirisasi—mengolah barang mentah menjadi baterai atau chip di dalam negeri—agar nilai tambahnya tidak lari ke luar negeri.

Valuasi Ekonomi Jasa Lingkungan

Satu terobosan penting dalam ilmu Ekonomi Lingkungan adalah memberikan label harga pada SDA yang “tidak terlihat”. Berapa harga oksigen yang dihasilkan satu hektar hutan? Berapa nilai ekonomi hutan bakau dalam mencegah banjir Jakarta?

Dulu, hutan hanya dinilai dari harga kayu tebangannya. Sekarang, mahasiswa diajarkan Valuasi Jasa Lingkungan. Hutan yang berdiri tegak bisa jadi lebih bernilai ekonomis (melalui perdagangan karbon atau pariwisata) daripada hutan yang ditebang. Ini adalah revolusi pemikiran yang mengubah cara pemerintah membuat kebijakan anggaran.

Kesimpulan

Belajar Sumber Daya Alam di tingkat tinggi adalah belajar tentang etika antargenerasi. Kita menyadari bahwa SDA bukanlah warisan nenek moyang yang bisa dihabiskan semau hati, melainkan titipan anak cucu yang harus dikelola dengan hati-hati.

Tantangan bagi sarjana masa depan bukan lagi menemukan ladang minyak baru, tetapi menemukan cara agar kita bisa tetap sejahtera tanpa harus mengeruk perut bumi sampai habis.

Sumber:https://bungkuselatan.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *